Senin, 01 November 2010

Gempa Mentawai 2010


i
Quantcast


Disaat kita sedang was-was mengamati Gunung Merapi di Jogja, sebuah gempa kuat dengan kekuatan 7.5 SR terjadi di laut Sumatera Barat. Gempa yang menurut BMKG memiliki berkekuatan 7,2 SR melanda kawasan Mentawai, Sumatera Barat. Seperti yang dikemukakan di detik.com Badan Metereologi dan Geofisika memperingatkan gempa berkekuatan cukup kuat ini berpotensi menimbulkan gelombang tsunami. Berdasarkan informasi dari situs BMKG, gempa ini terjadi sekitar pukul 21.40 WIB. Lokasinya berada di 78 Km Baratdaya Mentawai, Sumatera Barat.
Pusat kedalaman gempa berada di 10 Km. “Berpotensi Tsunami,” tulis BMKG. Namun kemudian BMKG mencabut mengakhiri amaran tsunami ini setelah sekitar satu jam berikutnya.

Letusan Gunung Merapi 2010

Awan Panas Merapi dalam Video [Pyroclastic flow]
[hak cipta ada pada pemilik copyright]
Foto-foto dari Boston.com
The sun rises over a smoking Mount Merapi on August 8th of 2010. Original here. (Bernard Tey / CC BY-ND) #
A government volcanologist monitors Mount Merapi activity from Volcano Monitoring Centre in Yogyakarta on October 25, 2010. Indonesia ordered thousands of people to evacuate from around Mount Merapi as it raised the alert for its most active volcano to red, warning of a possible imminent eruption. Mount Merapi, which lies around 25 kilometers north of the town of Yogyakarta in the center of Java, last erupted in June 2006. (CLARA PRIME/AFP/Getty Images) #
Villagers travel in a truck after being evacuated from their village to Girikerto village in Sleman, on October 26, 2010 near Yogyakarta, Indonesia. Authorities evacuated more than 11,000 villagers living on the slopes of the Mount Merapi volcano near Yogyakarta on Java after the alert status for an eruption was raised to the highest level. (Ulet Ifansasti/Getty Images) #
A rescuer carries an elderly woman to a temporary shelter as she is evacuated from her home on the slope of Mount Merapi, in Pakem, Yogyakarta, Indonesia on Tuesday, Oct. 26, 2010. (AP Photo/Slamet Riyadi) #
Indonesian rescuers evacuate victims of Merapi volcano at Kinahrejo village, Sleman, Yogyakarta on October 26, 2010, after the volcano erupted three times. (CLARA PRIMA/AFP/Getty Images) #
Burnt trees and ash cover the ground in the village of Kinarrejo in Sleman, near the ancient city of Yogyakarta, October 27, 2010. (REUTERS/Beawiharta) #
A mother carries her son as she runs following the erupution of Mount Merapi, at Kaliurang village in Sleman, on October 26, 2010. (Ulet Ifansasti/Getty Images) #
Volunteers search for victims of the Mount Merapi eruption at Kinahrejo village in Sleman, Indonesia on October 27, 2010. (Ulet Ifansasti/Getty Images) #
A bowl of noodles and a glass rest on a table, covered by ash at Mbah Marijan's house at Kinarrejo village in Sleman on October 27, 2010. Mbah Marijan, was considered to be the spiritual gatekeeper of Mount Merapi (REUTERS/Beawiharta) #
A buffalo lies dead and covered with volcanic ash at a village hit by pyroclastic flows from Tuesday's eruption of Mount Merapi in Kinahrejo, Yogyakarta, Indonesia on Wednesday, Oct. 27, 2010. (AP Photo/Trisnadi) #
Indonesian search and rescue teams explore the area after Mount Merapi volcano erupted the night before in the village of Pakem in Sleman, Yogyakarta province on October 27, 2010. (CLARA PRIMA/AFP/Getty Images) #
A car covered in volcanic ash sits amongst surrounding damage after Mount Merapi volcano erupted the night before in the village of Pakem in Sleman on October 27, 2010. (CLARA PRIMA/AFP/Getty Images) #
A motorist covers his face with his jacket as he rides on an ash-covered road in Klaten, Central Java October 27, 2010 after Mount Merapi erupted on Tuesday. (REUTERS/Andry Prasetyo) #
This file photo taken on May 17, 2006 shows Mbah Marijan, the appointed guardian for Mount Merapi by Yogyakarta's highly respected Sultan Hamengkubuwono X as he prays for the people's safety in Kinahrejo. Marijan was one of the victims of the eruption. Grandfather Marijan was found dead - reportedly discovered in a prayer position - inside his burnt house about four kilometers (2.5 miles) from the peak, local officials said.(Tarko SUDIARNO/AFP/Getty Images) #
This file photo taken on May 17, 2006 shows Mbah Marijan, the appointed guardian for Mount Merapi by Yogyakarta's highly respected Sultan Hamengkubuwono X as he prays for the people's safety in Kinahrejo. Marijan was one of the victims of the eruption. Grandfather Marijan was found dead - reportedly discovered in a prayer position - inside his burnt house about four kilometers (2.5 miles) from the peak, local officials said.(Tarko SUDIARNO/AFP/Getty Images) #

A rescue worker searches for victims of Mount Merapi eruption in Kinahrejo, Yogyakarta, Indonesia, Wednesday, Oct. 27, 2010. (AP Photo/Slamet Riyadi) #
Volcanic ash covers the interior of a house at a village badly hit by pyroclastic flows from Mount Merapi eruption in Kinahrejo, Yogyakarta, Indonesia on Wednesday, Oct. 27, 2010. (AP Photo/Slamet Riyadi) #
Volunteers carry the body of a victim of the Mount Merapi eruption at Kinarrejo village in Sleman on October 27, 2010. (REUTERS/Beawiharta) #
A man watches Mount Merapi as seen from Kaligendol, Yogyakarta, Indonesia, Wednesday, Oct. 27, 2010. (AP Photo) #

Senin, 25 Oktober 2010

Cake Tanpa Telur

Ada yang nyari resep cake tanpa telur...
pasti ada yang ngasih dong...
Ini dia..
Brownies tanpa telur
Bahan :
1 sdm air jeruk nipis/lemon
Adonan Sirup :
300 ml air panas
175 gr gula pasir halus
100 gr DCC diiris halus
75 gr Margarin
1/2 sdt garam
1/2 sdt vanili

Campur & ayak :
150 gr tepung terigu protein rendah (kunci)
25 gr Coklat bubuk
25 gr maizena

Cara :
1.Buat sirup : Didihkan semua bahan sirup dengan api kecil sambil diaduk hingga gula larut. Angkat diamkan hingga hangat kuku
2.Panaskan panci pengukus. olesi loyang dg margarin dan sisihkan
3.Tuang sirup ke dalam tepung yg sdh diayak sedikit demi sedikit dan diaduk rata
4. Tambahkan air jeruk nipis sambil diaduk rata dan kental. Tuang ke dalam loyang 22cm x 22 cm x 4 cm
5. Kukus selama kurleb 35 menit atau di tes tusuk ya
6. Kalau sudah matang angkat dan dinginkan
7. Setelah dingin keluarkan dari loyang...setelahnya bisa disiram dg coklat leleh saja atau coklat ganache.
Mudah2an bisa buat masukan ya

Sumber : Afi NCC

Minggu, 24 Oktober 2010

Resep Mie Kering Tik-Tik


Bahan-bahan :
- Mie Telor
- Daging ayam (ayam filet or ayam potong bisa aja)
- Ati sapi (kalau gak ada pake liverpastei juga bisa)
- Udang diiris sesuai selera
- Baso sapi/ayam 5 butir, iris sesuai selera
- Telor 1- 2 butir, tergantung selera
- Sayur-sayuran (kol, sawi, wortel, etc)
- Tomat
- daun seledri, bawang en prei jangan lupa – iris2 halus
- tepung maizena 3 sendok or sesuai takaran kekentalan yang diinginkan
- Minyak goreng

Bumbu-bumbu :
- bawang putih 3 siung
- bawang bombay 1 siung kecil
- bawang merah 1 siung
- kemiri 1 biji- merica en paprika bubuk
- garam
- cinta;)
Pelengkap :
- jeruk nipis or citroen
- bawang goreng / gebakken uitjes dari Conimex or Inproba;)
- sambel botol
Cara membuat :
** Mie :
- Taruh kepingan mie dibaskom, en siram dengan air panas. Diamkan kurang lebih 4 menit sampe rada lembek (biarkan mie terurai). Tiriskan en biarkan agak dingin dulu.
- Goreng mie yang sudah tiris di wajan or frituurpan (pake’minyak agak banyakan ya, biar mienya tenggelam di minyak), sampai berwarna kecoklatan en jadi kering. Simpan di wadah tertutup biar tetep renyah.
** Kuahnya :
- Rebus ayam dengan 2 liter air (or sesukanya, takaran gue suka2 soale;)) sampai ayamnya lembek, en air rebusan ayam disisihkan buat kuah. Daging ayam di iris2 kotak, sisihkan.
- Bumbu2 diulek or diblender jadi satu. Merica dan garam boleh ditambahkan kemudian sesuai keinginan
- Panaskan minyak di wajan, tumis bumbu2 yang sudah dihaluskan, kalau sudah kecoklatan masukkan irisan udang, ayam dan baso, aduk sama-sama. Biar gak lengket, masukkan sedikit demi sedikit air rebusan ayam sampai habis. Takaran kuah sesuai selera dan keinginan (kalo gue suka kalau banyak kuahnya, jadi suka dilebih2kan air rebusannya). Biarkan sampai mendidih.
- Sambil kuah mendidih, cicipin dikit takaran garam en merica. tiup2 dulu, jangan sampai lidah jadi terbakar kepanasan;).
- Setelah menididih beberapa saat, masukkan sayur2an yang sudah dipotong2, biarkan beberapa saat.
- Siapkan campuran tepung maizena yang diaduk dengan air, tuang perlahan2 kedalam kuah sampai tercapai kekentalan yang diinginkan.
- Setelah kuah rada mengental, yang terakhir masukkan ceplokan telur dan langsung aduk kuah biar jadi terlihat seperti berserat.
- Biarkan mendidih beberapa saat sambil terus diaduk – supaya gak lengket di panci.
- Masukkan irisan daun seledri, bawang, dan prei.. Udah, selesai buat kuahnya
- Matikan kompor jangan lupa ya;)..
Cara penyajian :
- Siapkan piring, dan taruh mie goreng kering di piring sesuai porsi yang diinginkan
- Tuangkan kuah diatas mie.
- Taburi dengan bawang goreng, peras dengan jeruk nipis, tuangin dengan sambel botol.
- Jangan lupa, masukkan sejumput bumbu cinta kedalam mie titi ini;)..
- Selamat menikmati.
Tips :
- Untuk daging ayam : kalo gue lebih seneng pake ayam potongan gitu (kip karbonade), tapi kulit ayamnya dilepas dulu, en lemak2nya disingkirkan, baru ayamnya di rebus. Soale tulangnya khan gurih tuh buat kuah, en ntarnya khan bisa gue nikmati juga.
- Kulit ayam gue gak buang, di iris kecil2 terus digoreng dijadiin minyak ayam. Jadinya tambah nikmat.
- Kalau yang suka, boleh pake vetsin or penyedap rasa.. gue mah nggak pernah pake, jadi gak dicantumin di bahan2.

Rabu, 13 Oktober 2010

Asesor Dosen...


Beberapa hari lalu di kantor, diadakan semacam seminar untuk pengangkatan asesor beban kerja dosen. Para dosen yang sudah dinyatakan lulus sertifikasi pendidik dan berpendidikan minimal Strata 2, dapat diusulkan untuk diangkat sebagai asesor atau pemeriksa laporan evaluasi kinerja dosen pada PTS dimana tempat dosen tersebut mengajar.
Nah...sebagai Staf Kepegawaian, otomatis gue termasuk dalam panitia acara tersebut, gue bertugas di bagian absensi dan pembagian formulir asesor. Maka gue pun duduk di meja dekat pintu masuk, setiap dosen yang memasuki ruangan harus mengisi absen peserta dengan lengkap kemudian membayar biaya kontribusi untuk kepentingan dosen tersebut. Selama ini gue berpikir kalau dosen itu manusia yang sangat intelek, berwawasan luas, dan punya etika sopan santun yang tinggi. Namun setelah acara tersebut, gue melihat dosen-dosen itu ternyata super rewel dan aneh..mau tau keanehannya?? Let’s cekidot!!!!
1.      Gak bisa antri sama sekali...!, selama pengisian absensi para dosen tersebut, saling berdesak2an tidak beraturan, semua berebutan mengambil pulpen satu sama lain untuk mengisi lembaran absen....Capek deh!!! Padahal acara masih dimulai satu jam lagi, mana sudah diinformasikan untuk antri dan semua pasti kebagian absen, tapi yah pada gak sabaran semua.
2.      Rada-rada budeg...!, para dosen diwajibkan mengisi data akademik secara lengkap pada lembaran absensi, dan hal ini sudah diinfokan berkali-kali pada saat dosen tersebut mulai menulis, tapi tetap aja gak mau mendengar atau lupa saking buru-burunya menulis. Huuuufffttt...
3.      Keras kepala...!, tidak mau mengikuti aturan panitia pada saat acara berlangsung. Gak mau menuliskan gelar pada nama lengkap, sementara data tersebut harus diisi lengkap karena akan dikirim ke kantor pusat di jakarta. Alasannya gak mau dibilang pamer karena kebanyakan gelar depan dan gelar belakang..., yeilehhh, ini kan absen di lingkup kemdiknas, bukan absen tamu kondangan, jadi ya gak perlu malu2 kucing kalee menuliskan gelar anda.
4.      Suka (tidak) rela alias peLit...!, demi kelangsungan acara dan tersebarnya data yang dibutuhkan peserta, maka diinformasikan kepada setiap peserta agar diharapkan membayar biaya kontribusi sebesar Rp.XXXX, gak banyak kok kira2 setara dengan 2 cup es krim baskin robbins ukuran standar. Uang tersebut digunakan untuk konsumsi makan siang dan penggandaan makalah untuk setiap peserta. Tapi ternyata banyak yang masih terheran-heran kok harus membayar segala macam. Malah katanya ada dosen yang menepuk2 perutnya sehabis makan siang sambil berkata “saya sudah kenyang nih makan nasi dos seharga lima puluh ribu”... emang sih nasi dosnya yang standar2 aja bukan yg macam2 laukx, karena dana masih harus disisihkan untuk penggandaan makalah asesor. Tapi gak perlu nyolot kalee...bisa aja sih gak bayar biaya kontribusi, tapi anda hanya akan jadi penonton dalam ruangan selama acara seminar, karena gak dapat makan siang dan makalah seminar. Lagian berapa sih  nilai uang tersebut, dibanding gaji yang anda dapatkan setelah dinyatakan lulus sertifikasi pendidik yang nominalnya bisa sampai puluhan juta rupiah...!! dasar dosen gak tau bersyukur nehhhh. Malah ada yang sama sekali gak bayar uang kontribusi, alasannya lupa bawa dompet alias hanya bawa uang pas-pasan. (Percaya gak, kalo mereka keluar rumah gak bawa duit sama sekali???)
5.      Amnesia akut...!! pada waktu pengisian bidata untuk bidang ilmu dosen tersebut, banyak yang lupa apa nama bidang ilmunya yang sudah disertifikasi. Maklum juga sih, abis rata-rata dosennya udah lansia alias menuju manula alias kakek-nenek....Hehehehe!!
6.      Jam ngareeett...!! acara jam 10 pagi, tapi peserta datengnya jam 12 siang...ya udah salah anda sendiri kalau ada materi yang ketinggalan atau info yang simpang siur. Alasannya banyak acara diluar, tapi asal tau aja acara ini secara tidak langsung berhubungan dengan kenaikan nominal tunjangan anda sebagai dosen.
7.      Super (sok) sibuk...! banyak yang gak bisa mengikuti acara sampai selesai, karena  banyak acara diluar (lagi..!) ya wajar aja sih anda banyak acara, tapi bila anda ingin diangkat sebagai asesor profesional maka anda harus memahami dengan baik semua prosedur pengangkatan asesor sesuai edaran dari kantor pusat kemdiknas..!! jadi bagaimana anda bisa memahami hal tersebut, bila tidak mengikuti acara sampai selesai???, anda mengikuti acara sampai selesai saja belum tentu bisa paham, apalagi kalau ‘lari kesana-kesini’...
8.      Ada juga sih yang baek...!! misalnya bisa menuliskan biodatanya secara lengkap hanya dengan satu kali pemberitahuan, ada yang melebihkan uang kontribusinya..(katanya buat pembeli pulsa...hehe), ada juga yang gak banyak nanya alias kalem2 aja. Yang seperti ini totalnya hanya 8% dari total keseluruhan peserta yang semuanya ‘para dosen profesional’.
Yah itulah gambaran umum dari keanehan (atau keunikan...???) dari para dosen profesional ini, semoga di waktu berikutnya bila ada acara semacam ini, gue sebagai Staf Ahli Kepegawaian Kopertis IX Sulawesi (Ehm...Ehm...!!), bisa lebih menertibkan para dosen terhormat plus super rewel ini. Yah harap dimaklumi karena Dosen juga (ternyata) manusia...so siap2 aja pusing 7 keliling!!! Namun meski harus jadi konsumen obat sakit kepala karena pusing ngadepin para dosen dan kasubag k*****w**** yang juga super aneh bin rewel, gue senang kok dengan pekerjaanku saat ini, malah bersyukur karena bisa dapat posisi yang bagus di kepegawaian... Hehehe \(^_^)/

Minggu, 03 Oktober 2010

Wanna Be a Lecturer...!!! (2)

Ingin Menjadi Dosen [?]

Oke deh, kita lanjutin obrolan santai tentang fakta dan mitos mengenai dosen. Perlu diingetin lagi nih bahwa semua yg ditulis di blog ini adalah pendapat pribadi. Tidak terkait ataupun mencerminkan kebijakan dari suatu institusi.
Bagian pertama
Jadi seperti biasa kita bisa sepakat untuk tidak sepakat.
# Setelah lulus, langsung jadi dosen atau …
Kalo saya dulunya gak langsung jadi dosen. Habis lulus di Mesin ITB, saya kerja dulu di sebuah BUMN di Jakarta selama tiga tahun. Dari pengalaman saya sendiri dan hasil ngobrol dengan beberapa kolega, dapat disarikan bahwa kerja di industri sebelum menjadi dosen memberi beberapa keuntungan:
a. Hand on experience
Yang jelas setelah kita sempat kerja di industri, pandangan kita menjadi lebih terbuka mengenai dunia nyata. Bahwa apa yg ada di text book tidak selalu jalan di dunia nyata. Hal ini disebabkan adanya perbedaan konteks, paradigma, asumsi yang digunakan di textbook dan di dunia nyata. Bukan berarti bahwa ilmu text book tidak berguna di dunia nyata, namun lebih seringnya kita harus mengadaptasi konsep-konsep textbook agar kontekstual.
Selain itu, dengan merasakan sendiri bekerja di dunia industri, dosen akan bisa menyisipkan pengalaman-pengalamannya di saat memberi pelajaran. Contoh-contoh yang ditampilkan saat mengajar menjadi realistis – dan mudaha-mudahan menjadi lebih menarik bagi mahasiswa.
b Network
Dengan pernah merasakan bekerja di industri, jaringan pertemanan / komunikasi kita menjadi luas, terutama di bidang kerja kita. Sebagai contoh, karena saya dulu bekerja di Engineering & Construction company, maka saya jadi punya banyak kenalan di ranah ini.
Network yang luas akan berguna sekali, misalnya: membantu dalam penelitian, tukar informasi tentang pengetahuan terbaru, konsultasi, dsb.
c Open Minded
Terkadang dosen terlalu fokus ke bidangnya, dan tidak mau tahu lagi hal lain di luar bidang keilmuannya. Misal, karena merasa sebagai dosen teknik maka anti dengan segala hal terkait manajemen. Pendekatan seperti ini sangat tidak cocok untuk domain teknik Industri karena enjineer teknik industri dituntut untuk mampu bekerja di berbagai macam SOCIO-TECHNICAL SISTEM. Agar enjineer IE bisa berpikiran luas, maka dosennya harus juga mampu berpikiran luas dan bisa ‘menularkannya’ ke mahasiswanya.
Kesempatan untuk bekerja di dunia industri akan memberikan peluang untuk melihat dunia industri dalam ‘gambar besar’ – suka atau tidak suka. Saat anda bekerja di dunia industri, anda akan terekspose pada tugas-tugas yang menuntut anda untuk bisa bekerja sama dengan orang lain dan melihat masalah secara sistemik / holistik. Trend kerja di industri saat ini adalah mengurangi / menghilangkan silos of expertise. Anda akan membawa attitude ini saat anda menjadi dosen.
d Memperjelas niat
Menjadi dosen, menurut saya, adalah panggilan. Seorang dosen [seharusnya] dituntut untuk banyak berkorban dengan tujuan menjadi pendidik yg baik. Banyak tantangan dan godaan dalam perjalanan untuk menjadi seorang dosen. Gaji yang besar di tempat lain, misalnya.
Karenanya, untuk meyakinkan apakah anda benar-benar ingin (passionate) menjadi dosen, salah satunya adalah dengan ‘mencicipi’ pekerjaan lain – di industri. Jika ternyata setelah anda bekerja di industri sekian lama, dengan gaji yg cukup, fasilitas oke, dan hati kecil anda tetap menginginkan menjadi dosen – berarti dosen adalah panggilan jiwa anda.
Anda tidak akan sedih saat bertemu teman seangkatan anda sudah menjadi manajer di sana, mondar-mandir ke LN, gaji besar, dsb karena menjadi dosen adalah PILIHAN anda. Bukan suatu keterpaksaan.
# Perlukah Sekolah lagi?
Kayaknya untuk yang ini jawabannya udah jelas. Dosen dituntut untuk selalu mengupgrade dirinya agar bisa kompeten. Karena salah satu tugas dosen adalah menjadi peneliti, maka dia harus punya kecakapan untuk bisa menjadi peneliti mandiri. Gelar Ph.D atau Doktor memberikan gambaran bahwa sang penyandang adalah seseorang yg berkompeten untuk melakukan penelitian secara mandiri.
Selain itu dosen seharusnya selalu mengupdate kemampuannya agar tidak kuper. Karenanya dosen harus selalu haus untuk selalu belajar dari manapun – bahkan dari mahasiswanya. Saya jadi inget petuah kakak saya yg udah lama bekerja di Industri “Boed, kalo loe mo jadi dosen; jangan jadi dosen yg kuper. Jangan cuman ajarin mahasiswa kamu ilmu yang udah basi – kasian mereka”. Atau saya juga inget apa yg disampaikan oleh pak Bagyo (Kaprodi TI UGM): “jangan sampai dosen menyampaikan suatu materi kuliah ‘A’ ke mahasiswa HANYA dengan alasan karena dulu materi ‘A’ itu yang diajarkan ke sang dosen waktu dia kuliah”.
Asah kapak… asah kapak.
# Dosen = pinter di akademik
Well, ini adalah syarat perlu tapi bukan syarat cukup. Orang yang pinter di akademik belum tentu cocok jadi dosen, tapi untuk jadi dosen perlu modal itu.
He he .. agak ruwet ya?
Di samping harus jago di bidang akademik [oke deh IP=3,banyak gitu; cum laude juga boleh, dst], menurut saya dosen kok harus jago di bidang soft skill.
Wah apa pula itu soft skills?
Kira-kira sih artinya kemampuan untuk berinteraksi dengan manusia lain. Ya sesama dosen, mahasiswa, kolega di industri, dll. Jadi yg dituntut untuk jago soft-skill tidak hanya mahasiswa lho.
# Dosen = serem
Wah kalo ini saya gak tahu deh. Tapi apa ya masih jamannya dosen itu harus serem? Kalo serem so what gitu lho? Mahasiswa jadi gak berani mengungkapkan pendapat, tak ada diskusi, sepi, ngatuk, boring.
seargant
source: dari sini
Tapi kalo emang sudah gawan bayi / inherent ya mo gimana lagi lah. Harap maklum.
# Dosen = sumber ilmu pengetahuan
Kemunginan besar tidak deh. Dosen juga manusia. Bukan ‘dewa’ ilmu pengetahuan – serba tahu. So semestinya dosen mengakui bahwa sekali-sekali tidak tahu ya gak masalah. Tapi kalo sering-sering ya jangan.
Paradigma baru pembelajaran adalah SCL – student-centered-learning. Kurang lebih artinya adalah bahwa mahasiswa harus diberi kesempatan untuk bisa belajar sesuai gaya belajarnya sendiri. Ada deduktif, ada induktif. Ada yg jago belajar secara abstrak – pinter banget nurunin rumus yg pake integral lipat lima; ada yg pinternya belajar dengan intuisi dan studi kasus; ada pula yang lihainya belajar dengan mempraktekkan. Dosen ya bertindak sebagai fasilitator bukan dewa ilmu pengetahuan.
Intinya, learn smart, play hard. Contohnya ya ini:
Bridge design challenge (c) boed >>
bridge
LeGame ~ Designers’ catalyst (c) boed
LeGame
Lagian, sumber informasi dan pengetahuan sekarang sangat banyak. Perpustakaan, koran, wikipedia [tapi hati-hati kao pakai], friendster, blogs, open courseware-nya MIT ; youtube, dll. Apa ya mungkin dosen menyerap semua info itu trus disampaikan ke mahasiswa? Dosen malah akan jadi bottleneck jika semua info dipaksa melalui single portal: dosen.
# Modal dosen?
Honesty, passion, determination, self motivation

# Indikator keberhasilan dosen?

Apakah itu indikator kesukesan seorang dosen?
- jabatan profesor?
- publikasi ratusan?
- dana penelitian besar?
- grup riset yg solid?
- menjadi world-level expert?
Ya, semua itu bisa jadi indikator. Tapi ada satu hal jgn dilupakan.
Saya kok senang mengambil konsep “transformational leadership”-nya rekan-rekan di manajemen untuk mengukur indikator keberhasilan seorang dosen.
Menurut transformational leadership, seorang pemimpin dianggap sukses jika dia bisa mencetak pemimpin-pemimpin baru yang lebih canggih dari pada dirinya. Dan ternyata IEers, konsep transformational leadership itu mirip banget ama falsafah pengajarannya Ki Hajar Dewantara: Tut Wuri Handayani.
Diadopsi untuk kasus dosen:
Seorang dosen dianggap sukses jika dia bisa mencetak lulusan-lulusan yang lebih baik dari pada sang dosen – meskipun sang lulusan tidak harus jadi dosen.
Saya kadang berangan-angan dan berharap, 15-20 tahun lagi saya akan bisa memetik buah sebagai dosen. Melihat mahasiswa-mahasiswa saya menjadi orang yang berguna [apapun profesi dan perannya], bangga sebagai enjineer, berintegritas tinggi, menjadi pioner bagi perubahan negeri ini. Ujung tombak perbaikan. Saat itulah kami sebagai gurunya bisa berkata: “tak sia-sia lah kami”.
Tugas yang berat bukan??

So, IE-ers,
Bagaimana dengan anda?

Wanna Be a Lecturer...!!! (1)

Ingin menjadi dosen [?] Fakta & Mitos

IE-ers. Setelah anda lulus anda ingin jadi apa?Bidang kerja IE sebenarnya sangat luas, peluang bekerja anda sangat bervariasi. Sebelum akhirnya anda memilih (ya memilih bukan terpaksa) suatu jalur karier, seperti yang pernah saya sampaikan; pertimbangkan hal berikut:
a. passion
b. competence
c. contribution to the community.
Jika ternyata anda merasa bahwa dari tiga hal tersebut, anda punya “feeling” ingin menjadi seorang dosen – mungkin ada baiknya anda sempatkan membaca tulisan di bawah ini.

Tulisan ini tentunya adalah pendapat pribadi, tidak mencerinkan pendapat suatu institusi. Dan seperti biasa, kita bisa sepakat untuk tidak sepakat. Mari kita lihat satu persatu “mitos” dan “fakta” seputar profesi dosen.
# Dosen = pilihan terakhir
Ini terjadi jika anda sudah melamar ke sana ke mari di berbagai perusahaan, pemda dan sejenisnya dan belum beruntung. Akhirnya, sebagai pilihan terakhir anda TERPAKSA melamar menjadi dosen dan diterima.
Saya sungguh prihatin jika anda nanti mengalami hal seperti ini. Bekerja apapun itu, jika terpaksa ya berarti nggak ikhlas. Jika tidak ikhlas anda tidak akan termotivasi. Kerja anda menjadi tidak 100%. You’re wasting your time.
Karier sebagai dosen, terutama di PT favorit & Jurusan favorit (seperti TI UGM, he he…) sudah sangat kompetitif. Kompetitif sejak dari seleksi masuknya maupun dalam perjalanan kariernya. Anda yang gak ikhlas alias terpaksa tidak akan bisa bertahan dalam dunia yang sangat kompetitif.
# Dosen = santai
Mungkin sebagian dari kita menganggap kerja dosen santai. Dosen ‘kan ngajarnya sedikit SKS. Bisa masuk kerja semau gue jamnya. Abis kuliah ngilang. Nggak ada yg bakal marahin seperti kalau kerja di kantor atau pabrik.
relax chair
Well, it all depends.
Memang tidak ada yang menegur, tapi kita semua kan tahu, di ATAS sana ada yang memonitor? Kalau saya melihat bahwa kerja dosen sama dengan kerja di kantoran atau pabrikan. Anda saat masuk pertama kali sudah menandatangani kontrak kerja. Sebesar apapun gaji anda, anda harus menghargai kontrak anda sebagai dosen. Anda gak bisa seenaknya ngilang setelah atau sebelum ngajar, apalagi saat jam kerja, kecuali sedang mengerjakan tugas. Saat anda tanda tangan kontrak, berarti anda sudah terikat janji untuk bekerja dengan profesional.
Perlu diingat pula bahwa tugas dosen ada tiga:
a. edukasi
b. penelitian
c. community services
Jadi, kalo anda bayangkan dosen bisa bersantai saat tidak ada kuliah, ya itu tidak tepat. Kuliah di kelas hanyalah sebagian dari tugas anda. Di bidang edukasi, di samping mengajar di depan kelas, anda juga bertanggung jawab memeriksa ujian, memutakhirkan bahan ajar, membaca buku-buku terbaru, membuat inovasi kegiatan belajar. Mahasiswa anda nantinya kan pasti gak senang kalo dapet kuliah yg isi materinya dibuat 10 tahun yang lalu – outdated. Anda cuman ngajarin apa yg dulu anda dapetkan waktu kuliah. Ilmu IE berkembang sangat pesat. Belum kegiatan lain seperti penelitian yg bisa sangat memakan waktu (dan menguras pikiran), serta pengabdian masyarakat.
Menurut saya, base tempat kerja dosen ya Laboratoriumnya. Jadi, saat tidak sedang mengajar di kelas atau melaksanakan tugas lain; dosen harusnya gampang ditemui di Lab-nya. Seperti halnya pekerja kantoran / pabrikan, dosen semestinya gampang ditemui di ruangannya.
Jadi kalau motivasi anda menjadi dosen adalah supaya bisa banyak waktu luang, well… dengan berat hati saya katakan anda tidak benar.
# Dosen itu gajinya kecil
Persepsi yang sangat biasa muncul terutama di Indonesia. Kalau anda jadi profesor di Malaysia atau Singapura, kasus ini jelas gak ada. Anda tahu berapa gaji seorang profesor di Singapura? SGD 20,000 perbulan. Silahkan anda konversi sendiri ke rupiah.
Oke, lalu bagaimana dengan di Indonesia?
Saya selalu teringat pesan salah satu dosen saya dulu di ITB: “dosen itu memang gaji (salary)-nya rendah, tapi pendapatannya (income)-nya tergantung dari dosen itu sendiri”. Trus saya membatin “apalagi kalo kerjanya di PT favorit plus di Jurusan favorit“, seperti di … [you know].
Prinsipnya adalah bekerja dengan bersungguh-sungguh, jujur, dan berprestasilah. Rejeki yang memang sudah diatur oleh Allah SWT, Insya Allah akan mengikuti dedikasi, kesungguhan, doa, dan kejujuran anda. Tentunya, hal itu perlu proses.
Sebagai gambaran kasar, dulu si X pernah bekerja di kontraktor Jakarta. Setelah pindah ke luar kota dan memilih (ya MEMILIH, bukan terpaksa) menjadi dosen, berdasar informasi , rejeki si X setelah menjadi dosen tak kalah dibandingkan saat kerja di kontrakor – seringnya lebih besar. :)
So don’t worry rejeki sudah ada yang mengatur.
# Proyek
“Dosen mroyek”. Kalimat ini biasanya berimplikasi negatif.
consultacy
Saya pribadi berpendapat bahwa bekerja sama dengan industri untuk seorang dosen itu boleh – bahkan harus. Bekerja sama dengan industri untuk seorang dosen saya masukkan dalam kategori pengabdian masyarakat. Kalo anda dosen IE, tentunya anda harusnya punya link dengan para profesional di bidang itu juga kan?
Mahasiswa anda tentu lebih bangga kalau tahu ternyata dosennya punya relasi yang luas dan baik dengan dunia industri. Pendapat dosennya menjadi pegangan dunia industri. dll. Dengan relasi yang kuat antara dosen dan industri, lulusan akan lebih mudah diterima kerja. Mahasiswa akan lebih mudah mendapatkan tempat magang, kerja praktek, tempat skripsi, dll.
Kerja sama dengan industri akan membuat dosen jadi gaul – nggak kuper. Bayangkan kalau dosennya aja kuper, gak ngeh kalau di luar sana ternyata -misal- linear programming sudah biasa dipakai di industri dengan menggunakan Excel. Kira-kira mahasiswanya akan seperti apa?
Berikut saya kutipkan pendapat dari salah satu profesor di NUS (A/Prof Tang Loon Ching) mengenai proyek dosen. Beliau menggunakan istilah “konsultasi dan kolaborasi industri”.
There is no better way in demonstrating the relevance of course materials than real applications by means of industrial collaborations and/or consulting. More importantly, questions arising from the course of consulting can often be translated to problems worthy of further research. The trio, i.e. research, teaching and consulting, is the corner stone in a knowledge enterprise (emphasis added).
Tentu, tidak sembarang proyek bisa diambil dosen. Jadi sebenarnya apa sih proyek itu buat seorang dosen?
a. Proyek = interaksi ilmu teori dan praktis antara dosen dan mereka yg bekerja di dunia industri.
b. Proyek = network dengan dunia industri
c. proyek = tugas institusi, menambah pendapatan untuk institusi
d. proyek tidak melupakan tugas dosen yg lain